Motivasi Masuk STAN

Kamu Percaya pada Kekuatan Doa?

 

oleh: Kak Diana Sulistyowati, Spes Akuntansi 2010

Saya sudah sampai pada episode puncak di Kampus Ali Wardhana (STAN). Sekarang saya bersama rekan yang lain merasakan betapa sibuknya mempersiapkan proposal laporan studi lapangan dan membayangkan bagaimanakah nanti pelaksanaannya. Telah begitu banyak cerita terukir di kampus ini. Saya yang berasal dari SMA desa di pelosok Jombang Jawa Timur, tidak pernah menyangka akan bisa menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Mengapa? Sebelumnya tidak pernah ada satu pun alumni dari SMA saya yang bisa menjebol gerbang STAN. Banyak orang-orang yang merasa tidak yakin akan impian saya untuk berkuliah di STAN. Namun, saya tetap yakin jika seseorang mempunyai keinginan kuat, berusaha secara bersungguh-sungguh dan berdoa maka lambat laun apa yang diimpikannya akan tercapai. Lalu, dari manakah asalnya keyakinan itu? Sungguh karena kehendak Tuhan saya sempat dipertemukan dengan seseorang yang megutarakan pertanyaan seperti ini, “Kamu percaya pada kekuatan doa?” Waktu itu saya hanya tersenyum dan terdiam. Kemudian beliau berkata lagi dengan wajahnya yang meyakinkan, “saya percaya dengan kekuatan doa”. Kata-kata mujarab dosen Bahasa Inggris dari salah satu Universitas di Surabaya itulah yang menjadi semangat saya dalam memulai perjuangan menuju gerbang STAN. Beliau berpesan, “Tuhan akan memeberikan hal yang terbaik pada hamba-Nya. Yakinlah pada kekuatan doa”.

Kota Jombang memang daerah pelosok. Namun, tempat tinggal saya lebih jauh di pelosok lagi, tepatnya di Dsn. Kandangan, Ds. Carangrejo (±20 km dari Jombang kota). Saya berkesempatan bersekolah di SD dengan fasilitas biasa namun tetap menyenangkan. SD kecil yang dikelilingi sawah dan terdapat kebun bambu yang rimbun di area belakang, tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar. Para guru selalu antusias dalam mengajar dan selalu memberi kami motivasi. Pernah ketika kelas 4 ada seorang guru yang bertanya pada seorang murid, “Kamu kalau kuliah mau di mana?” Jawab murid itu, “Saya mau di Malang Pak.” Ternyata setelah beberapa tahun terbukti, benar sekarang dia berkuliah di Malang. Apakah ini kebetulan? Nah, yang terbersit di hati saya waktu itu adalah, “Saya ingin kuliah di Jakarta.” Hehe, saya mengawali dengan berani bermimpi walaupun tidak tahu jalannya bagaimana. Sekarang ternyata… Alhamdulillah…

Kita tidak akan pernah tahu bagaimana alur kehidupan. Di dalamnya akan penuh misteri dan teka-teki. Namun justru di situlah menariknya perjuangan dalam hidup. Jika manusia bisa mengetahui hal-hal apa saja yang bisa dia capai di masa depan, bagaimana dia akan mampu merasakan nikmatnya berjuang? Siswa yang berasal dari SMA pelosok juga boleh bermimpi dan berjuang bukan? Sekolah di mana pun itu sama saja, yang membedakan adalah kesungguhan, usaha dan kegigihan mental dalam berjuang. Orang lain boleh saja meremehkan. Tetapi jika kita tetap yakin dan terus berdoa pada-Nya, keberhasilan akan kita raih. Intinya adalah percaya. Jika kita tidak percaya kepada Sang Maha Pengabul doa, lantas bagaimana yang akan mengabulkan doa akan percaya kepada kita? Cukuplah Tuhan sebagai wali kita.

Ada keinginan yang terbersit sewaktu SMA. Selain berharap bisa kuliah ke Jakarta, saya juga berdoa untuk bisa kuliah tanpa dibiayai orang tua dan setelah itu bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Mungkin beberapa orang akan menganggap hal ini hanya mimpi. Namun biarlah, kalau berkeinginan saja tidak berani maka bagaimana hal-hal besar bisa terwujud. Tidak ada cita-cita yang terlalu besar, yang ada adalah upaya yang tidak sesuai dengan besarnya cita-cita. Waktu itu memang saya belum tahu caranya. Tetapi suatu saat nanti, saya yakin akan menemukan jalannya. Satu hal yang saya yakini, percaya pada kekuatan doa.

Alur menuju STAN sudah mulai nampak semenjak saya duduk di kelas X SMA. Awalnya saya tidak tahu sama sekali tentang sekolah kedinasan. Hal tersebut berawal ketika Bapak saya mengobrol dengan rekan kerjanya. Beliau menceritakan putranya yang dulu berkuliah di STAN. Lantas Bapak bertanya perihal perkuliahan di STAN. Ternyata pendidikannya berada di Jakarta, dibiayai negara dan lulusanSTAN bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Apakah ini kebetulan? Hal ini sesuai dengan doa saya. Entah mengapa, beliau juga menawarkan buku Ujian Saringan Masuk (USM) STAN. “Coba saja Pak anaknya diberi tawaran untuk berkuliah di STAN,” kata beliau. Bapak juga telah mendapat penjelasan bahwa untuk melewati USM STAN, seorang siswa harus bersaing dengan ratusan ribu siswa dari seluruh Indonesia. Namun pesan Bapak yang selalu menguatkan saya adalah, “Walaupun pesertanya ribuan dan peluangnya 0,0xx tetap saja masih ada peluang kan? Yakin saja ya Nduk. Coba dicicil belajar mulai dari sekarang.” Jadilah saya sudah disuguhi buku USM STAN semenjak awal SMA. Jika ingat dari dulu Bapak berkata, “Kamu sampai SMA sekolahnya di dekat-dekat rumah saja ya. Nanti kalau kuliah, kamu mau ke Jakarta pun bapak turuti.” Apa itu bercanda? Bukan, menurut saya itu juga adalah doa dari orang tua.

Latihan mengerjakan soal-soal USM STAN saya tekuni sejak kelas X. Saya mengerjakan soal-soal USM dengan berbagai tipe. Waktu itu saya menggunakan buku terbitan Ikatan Mahasiswa Muslim Akuntansi (IMMSI) STAN. Awalnya saya agak gamang melihat kumpulan soal bahas USM 6 tahun terakhir. Masya Allah… 180 soal yang tidak bisa dianggap enteng dikerjakan hanya dengan waktu 150 menit. Berarti, satu soal dikerjakan kurang dari 1 menit. Dari awal saya belajar dengan arahan dari orang tua. Pertama, bapak mengarahkan saya untuk mencari perbendaharaan kata sebanyak-banyaknya dengan melihat maknanya pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Karena hal itu, saya kerapkali menjadi pengunjung setia perpustakaan untuk hanya sekadar membaca jurnal, majalah, atau koran. Jika menemukan kata-kata dengan istilah yang asing maka saya akan segera mengeceknya di KBBI dan mencatatnya pada notes kecil saya. Kedua, berhubung orang tua saya guru bahasa Inggris, jadi saya sudah diminta untuk mempelajari materi dan soal-soal di buku TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Biasanya, setelah saya mengerjakan soal maka Bapak akan memberikan pembahasan. Ketiga, saya berinisiatif mengerjakan soal-soal TPA dengan menggunakan stop watch. Agak aneh memang, tetapi ternyata itu cukup berguna untuk melatih kecepatan dalam mengerjakan soal.

Masa SMA memang masa yang labil dan merupakan masa pencarian jati diri. Entah mengapa tiba-tiba saya bercita-cita menjadi seorang guru matematika. Alasan pertama karena saya menyukai pelajaran itu, kedua karena saya ingin menjadi seperti bapak dan guru-guru yang selama ini telah mengajar saya. Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia dan menyenangkan. Mentransfer ilmu adalah amalan yang tidak pernah terputus. Guru yang sukses bisa mencetak orang-orang yang sukses. Hal-hal itulah yang membuat saya tertarik. Jadi sewaktu kelas XI, saya mulai jarang berlatih soal USM lagi. Saya merasa terdorong untuk mempelajari soal-soal olimpiade matematika karena saya menjadi wakil sekolah di bidang itu. Namun anehnya, guru matematika saya berkata seperti ini, “Kenapa kamu hanya mau menjadi guru? Kamu tidak ingin menjadi akuntan? Kuliah di STAN saja. Di sana kamu bisa mengambil spesialisasi akuntansi.” Wah, kata “STAN” terkuak lagi. Tetapi rasa senang saya dalam mempelajari matematika masih terukir dan niat saya untuk menjadi guru juga masih kuat. Jadilah pada waktu kelas XII saat ada penjaringan PMDK, saya memutuskan untuk mengambil jurusan pendidikan matematika. Namun ternyata takdir berkata lain. Saya tidak diterima melalui jalur PMDK dan guru matematika masih saja menyarankan saya untuk berkuliah di bidang akuntansi.

Selang beberapa waktu setelah itu….

Kegembiraan setelah pengumuman kelulusan UAN SMA berganti secara cepat dengan kegalauan. Betapa tidak, semua siswa berlomba-lomba untuk mempersiapkan tes SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya sendiri juga belajar keras untuk tes tersebut. Di lain pihak saya juga tetap mempersiapkan USM STAN. Rasa semangat saya bergerak fluktuatif, bimbang dan ragu pun bercampur aduk. Bahkan saya sempat berpikir untuk fokus di SNMPTN saja. Peran orang tua di sini sangat menentukan. Beliau selalu menyemangati apapun pilihan saya. Bapak selalu berpesan, “Selain mengikuti tes SNMPTN, kamu mencoba tes USM STAN ya Nduk. Kamu tinggal mengikuti saja dan mengerjakan, mau ya?” Akhirnya saya mengikuti kedua tes tersebut. Dalam SNMPTN saya tetap mengambil pendidikan matematika dan untuk USM STAN pilihan pertama saya adalah spesialisasi akuntansi.

        Hasil SNMPTN diumumkan lebih dulu dan ternyata saya tidak diterima di satu pun universitas yang saya tuju. Saya merasa sedih memang, tetapi orang tua selalu menyemangati. “Berarti jalanmu bukan di situ. Ada tempat lain yang lebih baik untuk Kamu. Masih ada STAN.” Kata Bapak. “Ya, tetapi di situ persaingannya kan lebih sulit Pak.” jawabku “Ya sudah, Kamu harus tetap melanjutkan sekolah. Berkuliah di Jombangkampus swasta juga tidak apa-apa kan? Bapak dulu juga berkuliah di kampus swasta, tetapi juga bisa menjadi PNS kan? Kamu kalau pintar di situ, nanti bisa menjadi dosen lho.” Bapak mencoba menghibur. “Di kampus swasta itu ada seorang dosen. Beliau dulu juga mahasiswa di kampus tersebut. Karena beliau pintar, beliau berkesempatan untuk melanjutkan S-2 ke Australia.” tambah bapak bercerita

Rasanya kabut gelap masih menggelayuti hati. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Orang yang jatuh belum disebut gagal kalau setelah jatuh dia masih berusaha untuk berdiri lagi dan bahkan masih berani mencoba berlari. Dengan ikhlas saya mencoba menerima sesuatu yang sebenarnya tidak saya sukai. Tibalah hari di mana saya mendaftar ke kampus swasta di Jombang. Saya termenung selama perjalanan di dalam angkot yang harus oper sebanyak dua kali. Memang benar, saya tetap harus melanjutkan kuliah.

Hari yang dinanti pun tiba. Tanggal 3 Agustus 2010 menjadi hari yang mendebarkan dan bersejarah. Saya hanya bisa pasrah dan berharap yang terbaik. Hingga terdengar nada SMS dari HP dengan isi seperti ini, “Din, namamu kok ada di lembar pengumuman penerimaan USM STAN ya? Tulisannya persis namamu lho, spesialisasinya akuntansi, lokasi pendidikan di Jakarta. Tetapi lokasi tesnya di Malang.” Begitulah SMS dari teman yang juga mengikuti USM STAN di Surabaya. Perihal saya mengikuti USM di Malang, memang tidak saya ceritakan kepada siapa pun. Sontak seketika itu saya langsung menangis haru dan langsung melakukan sujud syukur. Orang tua heran dengan sikap saya dan kaget mengapa saya menangis. Setelah saya bercerita, terbitlah senyuman dari kedua orang tua. Hal itu menambah rasa bahagia saya karena saya bisa memenuhi apa yang mereka harapkan. Alhamdulillah…..

Impian saya sewaktu kelas 4 SD terwujud sudah. Berkuliah di Jakarta yang dulunya hanya mimpi besar dari anak kecil, sekarang menjadi kenyataan. Perjuangan saya belajar di STAN akan saya persembahkan untuk kedua orang tua. Bagi saya, senyum mereka adalah hal yang tak ternilai. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya. Orang tua selalu mengajarkan agar selalu yakin dan mempunyai kemauan yang kuat. Kemudian, kata kunci dari semua ini adalah “SAYA PERCAYA PADA KEKUATAN DOA”.
*Nduk : istilah dalam bahasa Jawa yang berarti panggilan untuk anak perempuan

4 Responses to Motivasi Masuk STAN

  1. waii says:

    sip sekali😀

  2. Novi says:

    wawwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww AMAZINGGGG sangat inspiratif sekali yak, semoga nasibku sama seprti mu ya

  3. sekar says:

    ka mau tanya. buku usm stan nya beli dimana ya? hehe aku baru kelas x . mau masuk stan. dan mau cari informasi dari skrg ka. makasih;)

  4. Rima says:

    Nice story.Thx kak atas motivasi-nya berguna bgt untk sy yg masih 16th yg pastinya lg labil”nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s